Cerita di balik hadirnya segertea

Oktober 2015 merupakan awal suami mencoba memulai bisnis. Memang saat itu gambling , karena kondisi keuangan kami sedang carut marut dikarenakan pembayaran gaji suami tidak teratur , terlambat bahkan tidak gajian. Tetapi, karena kebutuhan terus berjalan ditambah dengan kredit mobil dan KTA yang kepalang kami ambil, kami harus tetap menghadapi kondisi tersebut.

Disaat itu, suami yang memiliki keahlian dibidang IT beberapa kali mendapat project sampingan sehingga dapat menutupi cicilan yang kami ambil selama beberapa bulan, selain itu kami sudah terlanjur terjerat dengan kartu kredit ketika kami hanya memiliki 1 pemasukan dari gaji saya, untuk menutupi kebutuhan kadang kami menggunakan kartu kredit. Langkah selanjutnya yang salah adalah kami menggunakan kartu kredit untuk memulai bisnis. Sedari awal, saya sudah mewanti-wanti suami untuk memulai bisnis dengan modal terkecil dahulu, hindari untuk berhutang, namun saat itu suami sudah menggebu-gebu untuk memulai bisnis warteg di bilangan Kampus Surya. Ketika melihat kondisi tempat yang akan disewa sangat tidak rekomend sama sekali, kondisinya belum tertutup (dan harus banyak direnovasi). Sehingga selain biaya sewa yang sangat mahal Rp. 12.000.000 / 12 bulan dibayar dimuka, muncul kebutuhan untuk renovasi lagi, sedari awal saya tidak setuju dan memberikan pandangan terkait hal itu. Tetapi karena suami begitu yakin ya sudahlah, sebagai istri saya hanya berdoa semoga lancar.

Dengan kondisi yang carut marut tersebut, muncul lagi hutang baru untuk memulai bisnis sekitar Rp. 30.000.000 juta, dan itu masih menggunakan kartu kredit yang impactnya masih terasa sampai saat ini.

Diawal, warung yang kami namakan Wondes cukup ramai, menu andalanya adalah nasi uduk, serta masakan rumah lainnya, pangsa pasarnya adalah Karyawan dan Mahasiswa UMN, Karyawan dan Mahasiswa Surya yang sebagian besar adalah Mahasiswa Beasiswa dari Pemerintah Daerah sehingga harganya terbilang murah meriah untuk 1 porsi nasi,sayur dan lauk selain ayam atau daging adalah Rp. 9.000 sedangkan menggunakan ayam atau daging senilai Rp. 13.000,-. Saat itu omset perhari paling tinggi mencapai Rp. 400.000 / hari, paling rendah Rp. 200.000,-. Dan itu berjalan sampai kurang lebih 2 bulan , karena juru masuk kami tidak bisa melanjutkan karena satu dan lainnya. Alhasil, untuk sementara sampai kami mendapatkan juru masak lainnya, saya merangkap memasak untuk wondes dengan target ada 7 menu yang dihidangkan di Wondes, dan saya hanya bisa bertahan selama 2 minggu, karena tidak sanggup karena juga harus bekerja pada office our. Konsekwensinya warung kami tidak beroperasi dan cicilan atas sewa warung tersebut masih berjalan.

Ibarat jatuh tertimpa tangga, itulah yang kami rasakan karena keputusan yang sangat gegabah. Karena sebelum warung wondes, kami mencoba berdagang produk franchise yaitu Cilok Bakar Keju dan gagal juga. Salah satu bisnis suami yang masih berjalan saat ini adalah Siomay Bang Mandor itupun franchise juga, kenapa kami memutuskan masih melanjutkan menjual produk Siomay hingga saat ini, karena memang rasanya enak dan tidak kalah dengan Siomay yang berada di Restaurant.

Melihat suami yang begitu sungguh-sungguh ingin memulai bisnis dan gagal terus, saya gemas melihatnya. Tetapi dengan kegigihannya, dihati kecil saya kasihan karena apa yang diusahakannya selama ini belum terlihat, bahkan kondisi diperusahaan tempat ia bekerja makin tidak jelas penggajiannya. Dengan kondisi tersebut sayapun tergerak untuk tidak lagi membebani suami dengan meminta uang belanja lagi, tetapi bagaimana caranya, karena saya hanya mengandalkan gaji saya yang masih terbilang kecil, sehingga bisnis apa yang bisa dimulai tanpa modal yang besar.

Sampai pada suatu siang saya mendapatkan tester thai tea dari teman sekantor yang bernama Mas Budi dimana ia memiliki bisnis minuman, rasanya enak, tetapi masih belum seenak thai tea yang pernah saya rasakan di Grand Indonesia. Kebetulan saya merupakan pecinta teh, dan kalau pergi ke mall selalu saya minta dibelikan oleh suami thai tea dan selalu thai tea.

Akhirnya saya penasaran,  untuk membuat thai tea seenak di Grand Indonesia. Sepulang kerja, berceritalah kepada suami terkait pengalaman hari itu, namun suami tidak merespon sama sekali. Mungkin, karena dia sudah cukup lelah dengan kegagalan yang ia alami akhir-akhir itu. Meski begitu, saya tetap menyisihkan gaji untuk membeli bahan-bahan dasar pengolahan thai tea dan green tea.

Pada awalnya, saya survey bahan-bahan yang dibutuhkan, perbandingan harga, sampai kepada eksekusi pengolahannya, tentu saja untuk tes rasa dibantu oleh teman kantor yang sebagian besar merupakan pencinta kuliner yaitu Mbak Ratna, Mini, Niki, Mba Tety, Dian, Mba Vannesa, Ana dan Nia, percobaan pertama thai tea  saya kemanisan dan kekentalan cukup, teh kurang terasa, percobaan kedua manis sudah cukup namun kekentalan cukup dan teh belum terasa, percobaan ketiga manis sudah cukup, kekentalan cukup dan teh sudah cukup.

Sebelum dijual, saya meminta ijin kepada Mas Budi selaku pemilik glek-glek drink, bahwa saya juga akan ikut berjualan thai tea, tetapi tidak dijual dikantor, kebetulan Mas Budi tidak bertempat digedung yang sama, melainkan di Tendean sedangkan saya di Sudirman. Mas Budi pun men-silahkan saya untuk berjualan, “dikantorpun gak apa-apa karena rizki sudah ada yang mengatur” ujarnya , dia saat itu juga mengatakan kepada saya “lagipula kalau rasanya masih enakan glek-glek drink, nanti juga pada tetep beli kegue”, perkataan itu lah pemecut saya untuk membuat teh yang berkualitas, dan saya berterima kasih kepadanya karena melalui dia-lah, Allah SWT menunjukkan jalan agar berani mengambil langkah.

Akhirnya dengan mengucap Bismillah pada bulan Januari 2016 saya mulai berjualan teh, rasa thai tea dan green tea dengan nama “Segertea”. Kebetulan sejak bulan Desember 2015, suami mulai berjualan siomay di pelataran Gereja Maria Bunda Karmel dekat rumah setiap hari minggu, Segertea-pun perdana dijual di Gereja MBK, dan Alhamdulillah responnya-pun positif, penjualan hari pertama saat itu mencapai 30 botol . Minggu kedua meningkat penjualan sampai 40 botol, minggu berikutnya mencapai 50 botol dan sampai saat ini kalau sedang ramai-ramai nya bisa mencapai 80 botol bahkan lebih . Saat ini, selain di Gereja MBK Segertea sudah dijual di Food Court Menara Sudirman, Car Free Day area Sudirman – Thamrin dan di Kantin Ibu Febri Universitas Bina Nusantara, kami juga memiliki reseller di MNC TV, Kantor Pelayanan Pajak, dan di area Tangerang. Alhamdulillah melalui bisnis ini, saya bisa membantu meringankan beban suami .

Dibalik cobaan dari Allah SWT selalu ada hikmah, dan hikmah dari Allah atas cobaan kami saat ini adalah Segertea. Terima kasih ya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *